Fun Running ke Gunung Guntur, Garut

Guntur-Trail-Running

Hi, sudah lama rasanya tidak aktif lagi ke gunung, setelah sekitar 1 tahun lebih rasanya, rasa kangen sudah tidak terbendung lagi. gunung terakhir yang saya kunjungi adalah gunung Sindoro yang berada di wonosobo & temanggung. Tetapi trip kali ini berbeda dengan gunung sindoro, karena di gunung sindoro itu hikking ceria saja. persiapan pun juga sangat berbeda, untuk kali ini persiapan sangat minimalis, mengingat gunung guntur lebih pendek daripada gunung sindoro, sebagai catatan gunung guntur hanya 2.246 MaSL, sedangkan gunung sindoro 3.136 MaSL

Ditambah lagi gunung guntur lebih dekat dari kota bandung, which is persiapan lebih santai, tentunya juga lebih murah ya, hehehe. baik, untuk trip kali ini saya ditemani sama Ibnu Toriq (Runner Newbie yang cepat perkembangannnya) Fyi, Ibnu adalah teman kos saya, dulu ibnu adalah orang yang sangat anti sama olahraga, orang yang cenderung pemalas ketika sudah sampai di kos. tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 6 bulan kenal saya, ibnu saya “racunin” untuk menyukai olahraga / menghargai kesehatan, karena kesehatan adalah asset kita seumur hidup. tapi saya yakin dibalik dia menyukai olahraga pasti ada dorongan lain yang membuat dia suka sama olahraga, dalam hal ini khusus nya adalah lari.

Don’t ask me why i run!, ask yourself why you don’t!.

Mungkin ada beberapa orang yang bilang “kenapa kok lari di gunung, kurang kerjaan saja“. itu pertannyaan yang sangat wajar, khusunya bagi orang yang tidak pernah lari apalagi yang tidak pernah main ke gunung, pertannyaan itu sangat mudah dijawab dengan mengajak langsung main ke gunung.

anyway! gunung guntur itu gunung pertama kali saya trail run yang berada di jawa barat. sebelumnya udah pernah trail run di bandung, sempat juga main ke gunung tangkuban prahu, tetapi sepertnya tidak layak disebut gunung untuk case “running” karena lebih cenderung seperti bukit.

Tepat setelah hari kemerdekaan Indonesia yang ke 73, 18 Agustus 2018, jumat sore kita memutuskan untuk naik bus dari bandung ke garut. setelah menempuh kurang lebih 2 jam. akhirnya sampi juga di garut. pukul 7.30 PM, kita memutuskan untuk makan malam dulu sebelum melakukan expedisi ke gunung guntur. di pinggir jalan atau tepatnya di dekat pom bensin basecamp gunung guntur, banyak penduduk setempat menawarkan ojek, ojek disni tarif nya lumayan mahal menurut saya 20K hanya untuk jarak 2K, it’s too expensive khusus nya buat para pendaki yang tidak banyak uang untuk bekal, ditambah lagi tukang ojek disana “agak memaksa” untuk dapat order. untuk beberapa pendaki sepertinya itu annoying karena terlalu memaksa.

Okay! expedisi kita mulai, tepat pukul 3.00AM kita terbangun dari tidur yang sangat “nyaman” di basecamp gunung guntur. penjual di basecamp orangnya sangat friendly, untuk biaya masuk disini hanya disuruh mengisi kotak amal masjid saja. very cheap untuk gunung di jawa barat. sebagai catatan gunung di jawa barat rata-rata simaksi harganya 50K.

Pukul 3.30AM setelah persiapan selesai, kita memutuskan untuk langsung summit, trek menuju ke pos 1 just so so, tidak begitu terjal, dari pos 1 menuju pos 2 cukup menarik karena banyak mata air, air disini masih benar-benar fresh bisa langsung diminum harusnya. karena tidak tercium bau belerang. dari basecamp sampai pos 3 saya hanya menemukan sepasang kekasih yang hikking dengan konsep “tek tok” hikking tanpa nge-camp.

Sesampainya di pos 3, mulai terdapat banyak pendaki, banyak tenda berserakan, mungkin ini karena hari liburan dan di tambah lagi kalau gunung gede pangrango ternyata tutup. walhasil para pendaki beralih ke gunung-gunung lain salah satunya gunung guntur. ada cerita unuk dalam trip kali ini, tetapnya pukul 5.00AM watunya untuk sholat subuh, saya memutuskan untuk sholat subuh, karena takut keburu waktu sholat habis saya memutuskan untuk buru-buru tayamum, selesai tayamum langsung saya sholat, ternyata ibnu pun ikut untuk sholat disampin saya. well, setelah masuk ke bagian rukuk saya dan ibnu baru sadar kalau kita hanya memaki pakean pendek, karena sudah terlanjur, yasudah kita lanjutkan ritual sholat sampai selesai. tidak tahu kenapa kok sampai tidak kepikiran melihat bagian kaki apa sudah tertutup. mungkin karena capek ditambah oksigen titpis jadi otak tidak bekerja maksimal kal ya! huehuhe

Siksaan dimulai!, dari pos 3 menuju ke puncak 1, trek cukup vertical di tambah lagi medan berpasir dan batu-baru besar yang rawan longsor, trek seperti ini sangat-sangat tidak safety untuk beristirahat di jalur hiking. walhasil insident yang saya takutkan terjadi. well, ibnu dengan tidak sengaja menginjak batu yang cukup besar mungkin sekitar 15Kg dan jatuh! tepat dibawah nya ada 2 pendaki yang beristirahat, dengan sigap para pendaki lain meneriaki “Awas! Batu-Batu” akhirnya pendaki yang sedang istirahat ini langsung menghindar, tapi tidak cukup cepat untuk pendaki yang cewek satunya, dia terkena batu dibagian paha dia. karena batu cukup besar di tambah lagi kaki pendaki cewek itu juga lagi capek akhirnya kaki nya cram! tidak bisa bergerak.

Tanpa berfikir panjang saya langsung turun untuk melihat kondisi cewek itu, dan ternyata memang benar, kaki nya kaku dan bengkak karena batu tersebut. saya mencoba untuk kasih pertolongan pertama dengan memijit kaki dan menarik kaki biar tidak bertambah parah. alhamdulilah nya batu tersebut tidak sampi mengenai tulang, coba kalau sampai terkena tulung mungkin bisa lebih parah lagi, karena kasihan dengan kondisi cewek tersebut, ibnu ber-inisiatif untuk memberi compression lutut ke cewek tersebut. setelah dipakai dan dibuat berdiri, cewek tersebut akhirnya bisa berjalan normal kembali.

sebagai catatan saya. kalau memng ingin beristirahat, beristirahat lah di jalur yang safety, bisa bersembunyi di belakan phon, atau benda lain yang dikira aman dari batu jatuh. sebagai catatan dari pos 3 menuju puncak 1, trek nya berpasir seperti di gunung merapi. dari case tersebut sebenarnya tidak ada yang salah atau benar. karena di gunung itu memang sangat beresiko apalagi kalau kurang ketelitian / kehati-hatian dalam memilih jalur.

Summit pertama akhirnya sampai juga. puncak pertama ini menurut saya unik karena di bagian kawah mati terdapat cekungan seprti mangkuk, yang membutnya terlihat indah sekaligus berbahaya kalau berjalan di sekitar bibir kawah. diameter kawah mati tersebut cukup lebar sekitar 200 meter mungkin. berikut video kawah gunung guntur.

Takterasa ternyata sudah 2.5 jam. dan belum sampai di puncak tertnggi juga, sangat wajar memang mengingat kita hanya Fun Trail, lebih banyak foto-foto nya , hehe! trek dari puncak pertama menuju puncak ke 2 cukup aman dan tidak begitu vertical. sepanjang perjalanan hanya savana terlihat. dan disisi lain terdapat landscape gunung-gunung lain seperti gunung papandaya, cikurai, galunggung, disisi yang berbeda tepatnya di bagian barat terdapat view gunung gede pangrango, tangkuban prahu dan gunung-gunung di bandung. view gunung Guntur mengingatkan saya nostalgia di Gunung Merbabu, Central Java. trek dan view hampir sama bedanya di gunung merbabu tidak ada batu2 yang rawan jatuh.

Savana dan Savana, dari puncak 2 menuju puncak ke 3 (top of guntur), savana lumayan luas dan beberapa terdapat pohon-pohon mati, mungkin karena perubahan iklim yang cukup extreme membuat pohon tersebut tidak cukup survive untuk hidup. disini juga lumayan banyak bunga edelweis, perjalanan ke puncak 3 lumayan vertical tetapi masih aman dari batu. karena trek nya hanya tanah berpasir saja.

Top of Guntur akhirnya lunas. sampai juga ke puncak tertinggi 2.214 MaSL dengan total waktu sekitar 2.40 menit. cukup lama memang haha. kali saya tidak bertemu pelari lain, padahal saya berharap bertemu para pelari lain untuk saling sapa atau tukar informasi. mungkin karena ada event lari lain di sentul jadi banyak pelari yang memilih untuk ikut race itu daripada lari independent di gunung.

PR pertama sudah selesai, sekarang lanjut ke PR ke dua, yaitu TURUN!. saya sempat menghawatirkan ibnu ketika turun, karena dia tidak begitu suka turunan, padahal sensasi lari di gunung itu ketika turun, tapi justru dia malah takut. mungkin ketakutannya karena sepatu yang dipakai sepatu road running, so tidak begitu cocok di medan tanah dan berbatu. membuat gampang sleppery. untuk jalur pulang atau turunan kita memilih untuk mengikuti jalaur race goat running 2017. cukup menarik memang rute nya, specially untuk kilometer ke 9-13 savana yang cukup luas dan datar, jadi lebih comfort aja buat lari.

Sekitar kilometer ke 10, hutan mati dan hitan hujan menghiasi perjalanan kali ini. cukup aneh saja melihatnya karena perbedaan yang cukup contras!, antara kehidupan dan kematian. fyi untuk jalur turun ini sebenarnya juga jalur pendakian hanya saja tidak begitu populer, saya sepanjang perjalanan turun hanya menemukan bebrapa pendaki saja. memang karena jalur tersebut lebih panjang dan aksesnya lumayan susah. tetapi jalur ini lebih safety dari batu-batu jatuh.

Akhirnya di kilometer ke 13 menemukan trek yang cukup nyaan untuk lari sekaligus cukup berbahaya, kerna trek nya ber-debu, disini kita disuguhi pemandangan dari gunung papandayan, trek yang lumayan panjang untuk downhill, disini ibnu berani untuk downhill, mungkin karena sudah panas kakinya dia baru berani untu lari meski sangat serng jatuh tapi dia pantang kendor!.

Disudut lain sempat saya menjumpai air terjun tapi sudah tidak ada airnya, mungkin karena musim kemaru juga, jadi air nya tidak ada sama sekali, sangat disayangkan harusnya kalau ada air terjun pasti bakal lebih menarik lagi, bisa jadi destinasi wisata baru.

Kilometer 15 menuju kilometer 16 adalah rute yang sangat saya benci, karena sepanjang rute adalah hutan bambu dan ilalang, which is membuat kulit gampang gatal, apalagi kulit saya sangat sensitif akan hal seperti itu. alhasil badan gatal-gatal semua, begitu juga dengan ibnu yang tidak memakai pakean panjang. trek disini tidak safety karena petunjuk sudah hilang dan trek sudah tidak jelas lagi karena memang jarang dilalui warga.

Sesampainya keluar dari “hutang ilalang” sampilah di kebun warga. disini kebannyakan warga menanam tembakau, pepaya dan cabe. menuju kilometer 17 trek sudah pemukiman warga. dan disini perjalanan kita akhiri, karena sudah tidak kuat karena gatal badan, padahal target kita sampai ke basecamp kembali dengan lari, total yang seharunya 21K+ hanya 17K saja.

but, next time semoga bisa complete sampai finish. Aamiin!
sekian dulu cerita dari gunung guntur. semoga masih diberi waktu lagi oleh Tuhan untuk explore ke indahaan alam Indonesia lain nya. :)